Istana Batara Guru

12 07 2009

Oleh; Nawawi.S.Kilat

Istana bagi sebuah kerajaan adalah tempatnya berdiam Datu ( Raja ) dan para kerabat-kerabatnya,lokasi atau tempat  didirikannya, menjadi pusat pemerintahan atau dikenal sebagai Ware di Kerajaan Luwu, sebagai mana halnya Istana Datu Luwu yang sekarang ada di Palopo merupakan pusat pemerintahan Kerajaan Luwu (Ware pada periode ke V) yaitu sesudah dipindahkan dari periode Pao,Patimang Malangke (Ware ke IV).Istana Datu Luwu yang ada di Kota Palopo  sekarang merupakan istana yang terakhir. Jika diketahui, sebagai Istana yang terakhir, maka tentu ada istana-istana sebelumnya yang menyadi pusat pemerintahan Kerajaan Luwu ( Ware ). Yang menjadi masalah, hal ini kadang diabaikan yaitu dimana Istana Datu atau Kerajaan Luwu yang Pertama, tempat dimana didiami oleh Batara Guru,sebagai sokoguru pemerintahan Datu Luwu. Menurut tradisi,dan dipercayai banyak pihak, Luwu dianggap sebagai daerah  tertua bagi pemukiman dan merupakan kerajaan yang tertua khususnya di Sulawesi, hal itu menyebabkan daerah ini sangatlah bergengsi.  Ketuaan Luwu tidak dapat dilihat pada periode ke III ketika Pusat Kerajaan Luwu berpusat di Kamanre di tepi Sungai Noling ( Palopo Selatan atau Kabupaten Luwu sekarang) karena hal tersebut terjadi sekitar abad ke XV,atau ketika pusat kerajaan Luwu berada di Pao,Patimang Malangke karena hal itu juga terjadi pada sekitar abad ke XVI, apalagi jika hal tersebut dilihat ketika pusat kerajaan Luwu berpusat di Palopo karena hal itu baru terjadi ketika memasuki abad ke XVII. Ketuan Luwu hanya dapat dilihat ketika kerajaan Luwu berpusat di sekitar Wotu lama karena hal tersebut terjadi disekitar abad ke IX sampai abad ke XIII yaitu pada masa kerajaan Luwu pada periode Ware yang pertama

Kembali pada permasalahan yang ada tentang dimana letak Istana Luwu yang pertama, dan hal ini kadang atau sengaja diabaikan sehingga perhatian kita hanya tertuju  dimana Istana Datu Luwu yang ada sekarang, yaitu di Palopo atau yangmenjadi Ware. Jika perhatian kita hanya mengarah pada pemahaman ini, dikhawatirkan khususnya para generasi muda wija to Luwu akan asing dengan sejarahnya sendiri, mereka kehilangan jejak, pemahaman tentang Luwu makin sempit, sementara terabaikan jejak perjalanan panjang ketika Ware di Wotu,tempat berpijak awal dari Batara Guru dan keturunannya, ketika Ware di Mancapai dekat Lelewawu selatan Danau Towuti tempat berpijak Datu Luwu Anakaji dan keturunannya, ketika Ware di Kamanre, ditepi sungai Noling sebelah selatan kota Palopo,tempat bepijak Dewa Raja dan keturunannya, ketika Ware di pindahkan ke Pao, di Patimang dan Malangke dimana disini terjadi peristiwa yang sangat besar, yaitu masuknya agama Islam yang diperkenalkan oleh Dato Patimang. Sebagai catatan peristiwa-peristiwa tersebut justru terjadi antara abad ke IX sampai dengan Abad ke XVI Masehi, jadi berlangsung kurang lebih 700 tahun lamanya, terkadang perhatian kita diarahkan atau sengaja diarahkan pada kejadian yang selalu dijadikan fokus perhatian yang tertuju ke Palopo karena kedudukannya sebagai Ware sekarang baru terjadi pada abad ke XVII Masehi. Untuk menghadapi kehawatiran ini kami mencoba mengkajinya dari beberapa penelitian serta cerita tutur yang terpelihara dengan baik di tanah luwu dengan memulai, perhatian dari cikal bakal lahirnya kerajaan Luwu dari periode Luwu Pertama, dengan menunjukan letak Istana Batara Guru.

Ada anggapan bahwa sebahagian orang, menganggap istana Luwu tempat berdiam Batara Guru yang pertama berada di Cerekeng ( Cerrea), pendapat ini adalah sangat keliru karena masyarakat Bugis menetap di Cerekeng baru pada pertengahan abad ke Limabelas ,( Bulbeck dan Caldwell 2000;99 ) datang melalui Malili sekarang,adapun penduduk yang mendiaminya pada saat itu adalah Wotu, Pamona, To padoe atau Mori dan To Laki itulah sebabnya Malili tidak mempunyai penduduk asli, sehingga menurut Ian Caldwell Tidak ada bukti apapun yang menunjukan masyarakat Bugis di Cerekang maupun Ussu sebelum pertengahan abad ke Lima Belas. Hal ini berarti jikapun ada Identivikasi lokal atas Cerekang sebagai tempat Istana Batara Guru lebih tepat berlaku dari abad ke Enambelas ke atas, Lokasi dari pusat istana Luwu disini dalam tradisi lisan secara nyata adalah penempatan kejadian pada waktu yang salah ( anakronisme ).

Sebagai catatan kata Cerekang adalah terjemahan dari kata Cerrea yang merupakan nama asli Cerekeng. Cerrea dalam bahasa Wotu berarti tempat berpindah atau hijrah,terjadi ketika runtuhnya pusat kerajaan Luwu yang Pertama disekitar Wotu Lama yaitu sekitar Ussu dan Bilassalamoa.Sebagai tambahan menurut Ian Caldwell dalam tulisan “ Kenyataan, Anakrotisme dan Fiksi: Arkeologi bersejarah dan pusat-pusat kerajaan dalam La Galigo” beliau menyatakan “ Hampir pasti bahwa Istana Batara Guru di Cerekang di Teluk Bone Timur adalah sebuah Mitos. Pemukiman Bugis di Cerekang hanya dimulai sekitar kurang lebih tahun 1450, berhubung dengan naiknya peleburan besi dan produksi alat-alat senjata di Matano. Hal ini merupakan suatu godaan untuk beranggapan bahwa masyarakat Bugis di Cerekang telah secara nyata mengadopsi dan mengadaptasi mitos istana Batara Guru dari tetangganya, Wotu yang lebih tua.

Wilayah Wotu dahulu kala adalah tempat dimana Batara Guru turun untuk mendirikan kerajaan pertama. Disini jugalah pohon raksasa (pappua maoge) Welenreng ditebang untuk menbangun perahu Sawerigading ( Pelras  1996;59).Pada hal dua tempat di Luwu ini menyatakan bahwa disitulah bukit tempat dimana Istana Batara Guru berdiri.Daerah yang pertama adalah Wotu, sebuah kota kecil yang berbicara dalam bahasa daerah sendiri yang memiliki hubungan kausal dengan Kaili, Buton dan Selayar, identifikasi lainnya adalah bukit Pensimewoni yang terletak ditikungan sungai Cerekang.Disini terlihat atau nampak bagi kita bahwa tanpa malu-malu dengan penuh kejujuran peneliti Ian Caldwell mengakui bahwa Wotulah yang lebih tua. Jika ingin jujur dan kembali dalam arus sejarah yang betul, maka seyogianya pemerintahan Kabupaten Luwu Timur membetulkan berdasarkan sejarah kata Cerekang dikembalikan sesuai dengan nomenklatur nama aslinya yaitu Cerrea.Bukti lain adalah sesepuh kepala adat di Cerrea disebut sebagai Pua Cerrea atau nenek Cerrea,Pua tidak dikenal dalam bahasa Bugis, demikian pula halnya air suci yang ada di Cerekang (Cerrea) disebut Uwwe Mami yang berarti Air Kami atau atau air bertuah. Uwwe Mami tidak dikenal dalam bahasa Bugis tetapi hanya ada dalam bahasa Wotu.  Berdasarkan hal-hal tersebut diatas Masyarakat Hukum Adat di Wotu disebut Macoa atau yang dituakan, itulah sebabnya orang Wotu dianggap tua atau macoa, sehingga Datu-Datu Luwu yang mengerti Sejarah Luwu yang sebenarnya menempatkan hadat Wotu sebagai sangat terhormat, Datu Luwu menempatkan Hadat Luwu sebagai Kakak atau Macoa, sehingga pemangku Hadat Wotu disebut Macoa Bawalipu ( Yang dituakan di bumi). Pemangku Hadat Wotu sangat menghormati dan menyayangi siapapun Datu di Luwu.Orang Wotu memperlakukan Datu Luwu sebagai adik yang harus dijunjung tinggi dan wajib dilindungi dan dibelanya, demikian pula sebaliknya dahulukala Datu Luwu sangat menghargai orang Wotu sebagai kakaknya ,sebagai mana diperlihatkan Datu-Datu sebelunya. Akan tetapi dalam perjalanan sejarah tanah Luwu, ada sekelompok orang, atau pihak-pihak tertentu yang tidak mengerti sejarah Luwu yang sebenarnya dan berada disekitar Datu Luwu, ingin menghilangkan hubungan baik ini,sehingga peran hadad Wotu sengaja dikesamspingkan. Akan tetapi selicik apapun kelompok ini tidak akan berarti karena setiap saat ada penelitian yang dilakukan para ahli,dan orang Wotu sendiri sangat menhormati hadatnya, dan hadad Wotu keabsahannya juga tidak membutuh adanya pengesahan dari pihak lain termasuk siapapun yang menjadi Datu.Pemangku hadad Wotu dipimpin oleh seorang Macoa, dengan gelar Macoa Bawalipu. Sejujurnya peneliti dari manapun sulit menghilangkan Wotu dari sejarah tanah Luwu,karena Luwu dimulai dari sana.Sebagai penutup dari tulisan singkat ini, kami menutupnya dengan kalimat bijak dari Daniel Defoe “ Bila Arlojiku sendiri yang keliru, hanya aku yang tertipu, bila jam kota yang keliru, maka seluruh warga kota ini akan tertipu karenanya”

( Penulis adalah Wakil Sekertaris KKSS Provinsi Sulawesi Tengah)

PALU. 08 JULI 2009.

NAWAWI.S.KILAT.


Aksi

Information

8 responses

2 08 2009
sarif kalimpo

sudah saatnya mempromosikan budaya kita agar semua orang tahu khususnya orang wotu,bahwa kita semua bersukur dengan adanya blog ini kita dapat mengakses,melihat dan mempelajari perkembangan kebudayaan orang wotu….jangankan dari sabang sampe merauke,ito wotu yang ada diluar negri pun bisa tahu………………………………..sukses selalu NAWAWI S KILAT maju tarruo pantang munduru???

25 12 2010
dirmanmoiko

saya senang membaca artikel ini. perlu kita petik hikmahnya,bahwa sebenarnya wilayah wotu itu sampai di ussu.Nah sehingga penulis membahasakan cerrea,wai mami dan ussu itu adalah kekhasan wotu. Memang kok karena itu masih wilyahnya. jadi pembaca yang budiman pembenaran artikel ini memangg begitu adanya.

Sang penulis yg terhormat,mungkin arah alur artikel ini mungkin berpusat di kota wotu sekarang (2010) kejadiannya. padahal tidak mengingat bahwa wotu itu sampai dimana batasnya pada zaman itu.

thanks

15 03 2011
Dian Cahyadi

Tabe pak Nawawi,
Bagaimana dgn kisah ri tumpa’na welenrengnge. Ketika Batara Lattu mendapatkan kabar sawerigading hendak membuktikan kata2 tenriabeng dan membuat kapal dari kayu welenrengnge yang berada di Mangkuttu (Mangkutana?). Lalu merekapun berangkat berlayar menuju mangkuttu dimana terdapat banyak pohon-pohon dewata yang menjulang ke langit. Maka dalam rombongan terdapat Puang Ware dan Puang Luwu sebagai pemimpin ritual penebangan pohon, bersama pula dalam rombongan segenap rakyat luwu dan ware. Merekapun berangkat menuju ke arah matahari menyusuri pantai, juga ikut sebagian penduduk palopo.
Jika menilik dari naskah yang ada, artinya jika berdasarkan cerita maka dimanakah posisi istana batara lattu (pewaris batara guru)? jika ia sendiri menuju ke arah tempat turunnya batara guru.
Bagaimana dgn tesis demikian ayahanda?
salama’

29 06 2012
Amal

Assalamu alaikum,
Membaca artikel ini saya semula tdk terlalu tertarik krn saya anggap hanya cerita yg hampir terlupakan dan kemungkinan bisa saja kabur. Akan tetapi setelah saya baca lebih lanjut saya sempat melihat keterkaitan antara Luwu,
Sebagai pemakai bahasa Wolio (bahasa resmi kesultanan Buton) dan hingga kini masih digunakan oleh sebagian masyarakat kawasan benteng Kraton Buton). ) saya jadi penasaran apa iya sekitar 70% ada kesamaan bahasa dgn Luwu, saya coba telusuri dan inilah yang saya dapatkan dalam artikel ini.
1. …Disini jugalah pohon raksasa (pappua maoge) Welenreng ditebang untuk menbangun perahu Sawerigading ( Pelras 1996;59). …
2. …demikian pula halnya air suci yang ada di Cerekang (Cerrea) disebut Uwwe Mami yang berarti Air Kami atau air bertuah. Uwwe Mami tidak dikenal dalam bahasa Bugis tetapi hanya ada dalam bahasa Wotu. …
3. …itulah sebabnya orang Wotu dianggap tua atau macoa,
4. …Datu Luwu menempatkan Hadat Luwu sebagai Kakak atau Macoa, sehingga pemangku Hadat Wotu disebut Macoa Bawalipu ( Yang dituakan di bumi).

(1). pohon raksasa (pappua maoge). Dalam Bhs Wolio jika yg dimaksudkan pohon raksasa adalah Puu Ogena atau Puu Maoge artinya Pohon (yg sangat) Besar.
(2) Uwwe Mami yang berarti Air Kami atau air bertuah. Dlm bhs Wolio” Uwe Mami” artinya juga Air (milik) Kami.
(3) tua atau macoa, Dalam dialek bahasa Wolio kata “Mancuana” merujuk pada pengertian orang tua atau yang dituakan.
(4)Macoa Bawalipu ( Yang dituakan di bumi). Dalam pengertian bahasa Buton “Mancuana mo Bawana Lipu” berarti bisa merujuk Pemimpin Negeri/wilayah).

Tangkanapo (Demikian)
Salam dari kerabat di Buton,

20 07 2015
Ridwan Arsyad

Buton dan Wotu…itu sedarah….!!!

12 01 2014
Asriadi Surya Garetta

Menurut surek I La Galigo:bahwa ketika SAWE RI GADING mengalami masa sulit karena tidak boleh menikahi adiknya,maka diutuslah orang untuk memanggil TO UGI yang bertempat di PALOPO untuk menasehati SAWE RI GADING,TO UGI ini umurnya sangat tua sekali makanya dikasi gelar TUA BANGKALA.jadi tidaklah benar kalau kalau to ugi ada diluwu abad ke 15,kecuali memang kisah hidupnya Sawe ri gading di abad ke 15,.dan tidak bisa juga kita lupakan bahwa yang menemani perjalanan Sawe ri gading ke Cina adalah salahsatunya benama PANRITA UGI (sepupu Sawerigading).
dan kita juga musti ketahui bahwa lain istana LU’U lain pula istana WARE (Jadi dalam hal ini ada 2 kerajaan),kerajan luwu milik BATARA GURU ,sementara kerajaan ware milik WE NYILI TIMO (ketika BARATA LATTU mau lahir,maka berkatalah BATARA GURU,keluarlah anakku ;engkaulah pewaris tunggal KERAJAAN LU’U dan WARE ) dan yang musti kita tau juga bahwa sebelum Sawerigading ke cina,terlebih dahulu merenovasi ISTANA WARE ,dan setelah rampung baru kembali ke ISTANA LU’U,,,dan barulah masuk ke cerita AJU WALENRENGnGE..

20 05 2015
Arief Arbi

Pelajaran yang sangat menarik. Untung saja blog ini ada jadi bisa tahu sejarah negri kita yang sebenarnya.
Ditunggu artikel berikutnya.
Saya bangga menjadi masyarakat wotu.
Salam buat Pak Nawawi S Kilat.

29 10 2016
Desa Lampenai

[…] Istana Batara Guru […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: