Wotu, dari Kacamata Seorang Anak Kecil

7 07 2009

Oleh: Amirullah Amir to Baji

Pendahuluan.

Wotu, sebagai komunitas dan sebagai pemukiman secara administratif berada di Kecamatan Wotu, Kabupaten Luwu Timur atau berjarak sekitar 513 km dari kota Makassar ibukota provinsi Sulawesi Selatan. Penduduk traditional yang mendiami terdiri dari dua etnik besar yaitu Wotu dan orang Bugis, disamping etnik lain seperti Makassar, Jawa, Lombok, Sunda dan Bali, yang merupakan pendatang yang bermukim di sana. Aktivitas ekonomi bergerak di bidang pertanian, perikanan dan perdagangan. Di dalam pergaulan masyarakatnya, berlaku dua bahasa pengantar yaitu bahasa Wotu yang dituturkan oleh orang Wotu Asli dan bahasa Bugis. Bahasa Wotu merupakan grup linguistic, Muna-Buton (Sirk:1986 dan Salombe;1986) dan Kaili Sulawesi Tengah. Dahulu kala bahasa Wotu alat komunikasi pada sebahagian daerah Sulawesi Selatan pada sepanjang pesisir Teluk Bone dan sebagian Sulawesi Tengah, dan sekitar Buton Tenggara. Bahasa Wotu menurut Petras (ibid) adalah salah satu bahasa asli daerah Luwu dan penuturnya adalah merupakan pewaris budaya Luwu yang sesungguhnya. Demikian pula dalam struktur hirarkhi Kerajaan Luwu , yang kadang kala ada sekelompok golongan ingin mengaburkan atau menghilangkan sejarah ini, yang lebih ironis justru dari kelompok generasi Luwu pada periode-periode akhir, mereka tidak menyadari bahwa Wotu bukan merupakan palili (vassal) tetapi merupakan Domain yang menghubungkan kekuasaan Luwu dengan yang lain dengan Lembah Poso yang mendiami tanah Datu,

Potensi sejarah dan kekunoan Luwu belum banyak dikaji, sehingga pengetahuan tentang Wotu masih terbatas, salah satu yang terakhir dilakukan oleh Ian Caldwel dan D.Bulbeck (2000) dalam final report proyek OXIS,Land of Iron. Yang menarik adalah bahwa keberadaan arkeologis Wotu sekitar 1500 tahun lebih tua dari Malangke, yang diyakini sebagai pusat perdagangan Luwu di abad ke XII – XIV, semua ini didasarkan pada temuan keramik dan hasil Fotocarbon terhadap lapisan kandungan tanah dari berbagai situs yang ada di Luwu. Berbagai bukti penemuan arkeologi, tradisi lisan maupun naskah mendukung hal tersebut seperti bukit Lampenai dan Mulaitoe (Mulataue) dimana diyakini merupakan areal pertanian, dimana dikisahkan Batara Guru sebagai Tomanurung berdiam dan memperkenalkan ladang untuk pertama kalinya kepada manusia di  Luwu. Demikian pula situs Benteng tua serta Serre Bessue di muara sungai Wotu, tempat para Bissu menari untuk suatu acara ritual. Berdasarkan potensi sejarah,antropologi yang dimiliki daerah Wotu, adalah menarik untuk mengangkat potensi budaya yang ada dalam masyarakat seperti ritual dan kesenian.

Seperti yang telah dijelaskan di atas, beberapa kesenian yang berada di daerah Wotu seperti Kajangki dan Sumajo menarik untuk dilestarikan dan diperkenalkan bukan saja kepada generasi muda di Wotu tetapi juga kepada umum yang belum pernah menyaksikannya. Kajangki berasal dari kata Jangki yang berarti kemenangan, yang dimaksud adalah kemenangan Luwu yang dicapai oleh perajurit dalam menghadapi musuh-musuhnya. Berdasarkan keterangan yang diperoleh, bahwa keberadaan kajangki di Wotu adalah sejak adanya ade” atau adaptasi yang mengharuskan adanya norma yang berlaku bagi yang melakukan pelanggaran yang dilakukan oleh seseorang, maka dikenakan sanksi yang dinamakan “Eja-Eja”. Hal ini memberi penjelasan  bahwa kajangki dilaksanakan sebagai realisasi rasa syukur atas kemenangan yang dicapai dalam medan perang atau mendapat rezeki dalam kehidupan. Karena itu siapa yang melakukan pelanggaran dalam melaksanakan kajangki dianggap melanggar norma adat dan akan diberikan sanksi sesui ketentuan yang berlaku.

Seperti yang dijelaskan di atas, bahwa kajangki merupakan kesenian asli Luwu seperti yang dikukuhkan dalam surah Mulataue dalam epos La Galigo yang berbunyi ”Majangki ri Luwu, Masengo-sengo ri Mengkoka, Mabbadong ri Toraja,” sementara berdasarkan pengetahuan yang ada, bahwa semua wilayah Luwu Kajangki hanya diketemukan di Wotu.

BAGAIMANA WOTU SEKARANG.?

Dari pedoman 5W 1H, tampak pertanyaan 5W telah terjawab dalam penjelasan tentang identitas orang Wotu secara umum. Namun ada satu pertanyaan yang menggelitik pikiran yaitu How (Bagaimana) orang Wotu saat ini. Dari beberapa kali pulang kampung yang saya lakukan, tampak benar kebanggaan orang-orang Wotu akan identitas mereka sebagai To Luwu yang utamanya keturunan asli. Kebanggaan sebagai pemilik kebanggaan asli Luwu yang didukung berbagai fenomena-fenomena dan pertanyaan seperti, Wotu sebagai Kakak (macoa) dari Datu Luwu, berdasarkan mitologi versi wilayah ini tentang empat bersaudara dari moyang dari orang Wotu, Luwu, Palu dan Buton dan juga keberadaan empat tempat keramat seperti Tana Bangkolo, Tana Padda, Ue Mami dan sebagainya. Namun jika memandang saat ini, kebanggaan obyek tersebut tampaknya dinafikkan oleh generasi terahkir pewaris kebudayaan Luwu secara bertahap.Seperti dahulu dan mungkin juga sekarang masih ada rumor mengatakan orang wotu sebagai parassu rassu atau tempat ilmu hitam doti dan sebaginya, hal ini dilakukan sebagai strategi pembunuhan krakter bagi orang  Wotu sebagai salah satu komunitas pemilik budaya Luwu. Selamjutnya mengenai bahasa, menurut kajian DR. Abdullah pengguna bahasa ini diperkirakan tinggal 5000 orang dan keberadaannya 10 km persegi dalam wilayah Kecamatan Wotu saja. Hal ini disebabkan telah berkurangnya pemakai bahasa Wotu dalam lingkungan masyarakat  Wotu akibat kawin campur dengan para pendatang, menyebabkan komunikasi menggunakan bahasa Bugis dan bahasa Indonesia. Demikian juga dalam konteks politik terakhir, berdasarkan sejarah dan temuan, bahwa proses pembentukan Luwu Timur, keberadaan Kota Wotu yang paling layak sebagi ibu kota kabupaten, mengingat Wotu pernah menjadi ibu kota atau ware Kerajaan Luwu pada periode awal.

PENUTUP

Kebesaran budaya Wotu yang ada dan berbagai potensi di dalamnya, kiranya kita lihat dalam konteks kekinian dalam persfektif modern, Jika terus menggugat berbagai perlakuan yang orang Wotu terima akhir-akhir ini. Marilah kita gari jalan keluar bersama-sama dalam memecahkan masalah tersebut. Jika kita bisa belajar kita tidak akan menjadi bangsa/komunitas yang hidup dengan masa lalu, seperti orang-orang Indian yang pernah begitu berjaya di lembah prairie Amerika, sekarang mereka tinggal dalam desa adapt meraka yang kumuh dan hanya menjadi obyek pariwisata. Orang Wotu belum terlambat untuk bangun.

( Penulis adalah peneliti pada devisi social budaya, humaniora, Pusat Kegiatan Penelitian UNHAS)


Aksi

Information

2 responses

11 11 2010
Noor wahid

Benar kah d tanah wotu ada lenggeda buaya putih..???

10 02 2011
iksan wahyudi djoneid

Benar kah d tanah wotu ada lenggeda buaya putih..???
Balas ,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,oi stupid tamma ji ko ga sekolah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: