Sekilas tentang Pemerintahan Hadat Wotu

12 07 2009

Oleh; Nawawi.S.Kilat.

Kata “Luwu” masih banyak yang memberikan penafsiran yang berbeda satu dengan yang lain, ada yang mengartikan berasal dari kata ULO atau berarti “diulurkan” maksudnya payung atau raja dan perangkatnya yang pertama di ulurkan atau diturunkan dari kayangan ( Botting Langi ).Akan tetapi bagi orang Wotu kata “LUWU’’ berasal dari kata “LUO” yang berarti sangat luas. Luwu dari zaman dahulu kala kendati masih dalam indikatif menampak diri sebagai sebuah negara, walaupun kenyataannya Luwu belumlah nampak eksis sebagai sebuah tipe “negara” setingkat kedatuan ( Kingdom), namun kenyataannya tradisi-tradisi oral sedemikian kuat pada kelompok-kelompok masyarakat yang berkaitan dengan konsep kepemimpinan traditional seperti Macoa di Wotu dan Makole di Baebunta. Tradisi-tradisi kepemimpinan tradisional ini dapat memberikan kepada kita ide untuk menganggapnya sebagai sebuah indikator keberadaan elit-elit politik setingkat chiefdom, kepala-kepala suku domain atau beberapa unit pemukiman yang tunduk dibawah seorang raja yang biasa bergelar Payung atau Datu di Ware (Mappasanda dan Hafid,1992/3:25-26) Wotu sebagai sebuah Masyarakat adat,memiliki struktur pemerintahan sendiri yang pembagian tugasnya sedemikian maju. Kata Wotu berasal dari kata Fotu atau rumpun keluarga dan terjemahan lain yaitu Ibu Kota tercinta.  Wotu dalam berkomunikasi memiliki bahasa tersendiri dalam suatu rumpun bahasa Kaili,Buton dan Selayar. Orang Wotu dahulu meyebut dirinya sebagai Suku luwu, dan kadang juga menyebut dirinya sebagi suku Wotu, orang Wotu bukan bahagian dari suku Bugis tetapi dia berdiri sendiri. Dalam menjalankan pemerintahan adat di Wotu dipimpin oleh seorang Macoa yang bergelar Macoa Bawalipu. Secara singkat dapat digambarkan sebagai berikut:

  1. 1. MACOA BAWALIPU, Adalah gelar yang diberikan kepada pimpinan pemangku adat di Wotu sebagai Macoa.

2.    MACOA BENTUA, menangani urusan dalam negeri pada umumnya.

3.    MACOA MINCARA OGE,mengurusi masalah ekonomi,

4.    MACOA PALEMBA OGE,mengurusi antara lain bidang pertahanan dan

Luar negeri/hadat.

5.   ORAGI BAWALIPU,mengurusi antara lain, urusan rumah tangga adat.

6.   ORAGI DATU,mengurusi antara lain keperluan datu Luwu bila yang  mulia hadir dalam rapat hadat.

7.    ORAGI ALA,mengurusi antara lain antara lain,bidang kehutanan pertanian dan kelautan.

8.   ANRE GURU ILITAU, mengurusi antara lain bidang kepemudaan,seni dan olah raga.

9.   ANRE GURU TO MENGKENI, mengurusi antara lain antara lain mantan pejabat-pejabat adat yang berhenti secara terhormat.

10.   ANRE GURU PAWAWA, mengurusi urusan bidang keagamaan dan sosial budaya.

11.   ANRE GURU LARA, mengurusi urusan antara lain urusan rumah tangga adat khususnya bila ada pertemuan adat.

12.   ANRE GURU NANRA. Mengurusi antara lain bidang kesetaraan gender.

13.   ANRE GURU TOMADAPPE, mengurusi antara lain para pendatang dan transmigrasi.

14.    ANGKURU , yaitu mengurusi antara lain urusan pretokol.

15.   PARAMATA LEWONU. Utusan khusus Macoa Bawalipu ,untuk mengurusi urusan Wotu sampai Minna.

16.   PARAMATA ROMPO.Utusan khusus Macoa Bawalipu, untuk mengurusi urusan Wotu sampai dengan Bada’.

17.   TANGGI. Pesuruh atau hubungan masyarakat.

Dalam silsilah orang Wotu dan terpelihara dengan baik, bahwa Macoa Bawalipu yang bertama bernama Bau Jala memiliki tiga orang saudara kandung masing-masing bernama Bau Leko di Palu, Bau Kuna di Buton sdan Bau Cina di Palopo. Secara khusus Bahasa Wotu, Kaili dan Buton sekitar 70% hampir sama, walaupun ketiga daerah ini berjarak ribuan kilometer. Sebagai penutup semoga tulisan singkat ini punya arti, ka-rena tanah air kita bila benar, akan selalu dijaga kebenarannya, dan bila salah akan di buat menjadi benar.

Palu. 8 juli 2009.

NAWAWI.S.KILAT





Istana Batara Guru

12 07 2009

Oleh; Nawawi.S.Kilat

Istana bagi sebuah kerajaan adalah tempatnya berdiam Datu ( Raja ) dan para kerabat-kerabatnya,lokasi atau tempat  didirikannya, menjadi pusat pemerintahan atau dikenal sebagai Ware di Kerajaan Luwu, sebagai mana halnya Istana Datu Luwu yang sekarang ada di Palopo merupakan pusat pemerintahan Kerajaan Luwu (Ware pada periode ke V) yaitu sesudah dipindahkan dari periode Pao,Patimang Malangke (Ware ke IV).Istana Datu Luwu yang ada di Kota Palopo  sekarang merupakan istana yang terakhir. Jika diketahui, sebagai Istana yang terakhir, maka tentu ada istana-istana sebelumnya yang menyadi pusat pemerintahan Kerajaan Luwu ( Ware ). Yang menjadi masalah, hal ini kadang diabaikan yaitu dimana Istana Datu atau Kerajaan Luwu yang Pertama, tempat dimana didiami oleh Batara Guru,sebagai sokoguru pemerintahan Datu Luwu. Menurut tradisi,dan dipercayai banyak pihak, Luwu dianggap sebagai daerah  tertua bagi pemukiman dan merupakan kerajaan yang tertua khususnya di Sulawesi, hal itu menyebabkan daerah ini sangatlah bergengsi.  Ketuaan Luwu tidak dapat dilihat pada periode ke III ketika Pusat Kerajaan Luwu berpusat di Kamanre di tepi Sungai Noling ( Palopo Selatan atau Kabupaten Luwu sekarang) karena hal tersebut terjadi sekitar abad ke XV,atau ketika pusat kerajaan Luwu berada di Pao,Patimang Malangke karena hal itu juga terjadi pada sekitar abad ke XVI, apalagi jika hal tersebut dilihat ketika pusat kerajaan Luwu berpusat di Palopo karena hal itu baru terjadi ketika memasuki abad ke XVII. Ketuan Luwu hanya dapat dilihat ketika kerajaan Luwu berpusat di sekitar Wotu lama karena hal tersebut terjadi disekitar abad ke IX sampai abad ke XIII yaitu pada masa kerajaan Luwu pada periode Ware yang pertama

Kembali pada permasalahan yang ada tentang dimana letak Istana Luwu yang pertama, dan hal ini kadang atau sengaja diabaikan sehingga perhatian kita hanya tertuju  dimana Istana Datu Luwu yang ada sekarang, yaitu di Palopo atau yangmenjadi Ware. Jika perhatian kita hanya mengarah pada pemahaman ini, dikhawatirkan khususnya para generasi muda wija to Luwu akan asing dengan sejarahnya sendiri, mereka kehilangan jejak, pemahaman tentang Luwu makin sempit, sementara terabaikan jejak perjalanan panjang ketika Ware di Wotu,tempat berpijak awal dari Batara Guru dan keturunannya, ketika Ware di Mancapai dekat Lelewawu selatan Danau Towuti tempat berpijak Datu Luwu Anakaji dan keturunannya, ketika Ware di Kamanre, ditepi sungai Noling sebelah selatan kota Palopo,tempat bepijak Dewa Raja dan keturunannya, ketika Ware di pindahkan ke Pao, di Patimang dan Malangke dimana disini terjadi peristiwa yang sangat besar, yaitu masuknya agama Islam yang diperkenalkan oleh Dato Patimang. Sebagai catatan peristiwa-peristiwa tersebut justru terjadi antara abad ke IX sampai dengan Abad ke XVI Masehi, jadi berlangsung kurang lebih 700 tahun lamanya, terkadang perhatian kita diarahkan atau sengaja diarahkan pada kejadian yang selalu dijadikan fokus perhatian yang tertuju ke Palopo karena kedudukannya sebagai Ware sekarang baru terjadi pada abad ke XVII Masehi. Untuk menghadapi kehawatiran ini kami mencoba mengkajinya dari beberapa penelitian serta cerita tutur yang terpelihara dengan baik di tanah luwu dengan memulai, perhatian dari cikal bakal lahirnya kerajaan Luwu dari periode Luwu Pertama, dengan menunjukan letak Istana Batara Guru.

Ada anggapan bahwa sebahagian orang, menganggap istana Luwu tempat berdiam Batara Guru yang pertama berada di Cerekeng ( Cerrea), pendapat ini adalah sangat keliru karena masyarakat Bugis menetap di Cerekeng baru pada pertengahan abad ke Limabelas ,( Bulbeck dan Caldwell 2000;99 ) datang melalui Malili sekarang,adapun penduduk yang mendiaminya pada saat itu adalah Wotu, Pamona, To padoe atau Mori dan To Laki itulah sebabnya Malili tidak mempunyai penduduk asli, sehingga menurut Ian Caldwell Tidak ada bukti apapun yang menunjukan masyarakat Bugis di Cerekang maupun Ussu sebelum pertengahan abad ke Lima Belas. Hal ini berarti jikapun ada Identivikasi lokal atas Cerekang sebagai tempat Istana Batara Guru lebih tepat berlaku dari abad ke Enambelas ke atas, Lokasi dari pusat istana Luwu disini dalam tradisi lisan secara nyata adalah penempatan kejadian pada waktu yang salah ( anakronisme ).

Sebagai catatan kata Cerekang adalah terjemahan dari kata Cerrea yang merupakan nama asli Cerekeng. Cerrea dalam bahasa Wotu berarti tempat berpindah atau hijrah,terjadi ketika runtuhnya pusat kerajaan Luwu yang Pertama disekitar Wotu Lama yaitu sekitar Ussu dan Bilassalamoa.Sebagai tambahan menurut Ian Caldwell dalam tulisan “ Kenyataan, Anakrotisme dan Fiksi: Arkeologi bersejarah dan pusat-pusat kerajaan dalam La Galigo” beliau menyatakan “ Hampir pasti bahwa Istana Batara Guru di Cerekang di Teluk Bone Timur adalah sebuah Mitos. Pemukiman Bugis di Cerekang hanya dimulai sekitar kurang lebih tahun 1450, berhubung dengan naiknya peleburan besi dan produksi alat-alat senjata di Matano. Hal ini merupakan suatu godaan untuk beranggapan bahwa masyarakat Bugis di Cerekang telah secara nyata mengadopsi dan mengadaptasi mitos istana Batara Guru dari tetangganya, Wotu yang lebih tua.

Wilayah Wotu dahulu kala adalah tempat dimana Batara Guru turun untuk mendirikan kerajaan pertama. Disini jugalah pohon raksasa (pappua maoge) Welenreng ditebang untuk menbangun perahu Sawerigading ( Pelras  1996;59).Pada hal dua tempat di Luwu ini menyatakan bahwa disitulah bukit tempat dimana Istana Batara Guru berdiri.Daerah yang pertama adalah Wotu, sebuah kota kecil yang berbicara dalam bahasa daerah sendiri yang memiliki hubungan kausal dengan Kaili, Buton dan Selayar, identifikasi lainnya adalah bukit Pensimewoni yang terletak ditikungan sungai Cerekang.Disini terlihat atau nampak bagi kita bahwa tanpa malu-malu dengan penuh kejujuran peneliti Ian Caldwell mengakui bahwa Wotulah yang lebih tua. Jika ingin jujur dan kembali dalam arus sejarah yang betul, maka seyogianya pemerintahan Kabupaten Luwu Timur membetulkan berdasarkan sejarah kata Cerekang dikembalikan sesuai dengan nomenklatur nama aslinya yaitu Cerrea.Bukti lain adalah sesepuh kepala adat di Cerrea disebut sebagai Pua Cerrea atau nenek Cerrea,Pua tidak dikenal dalam bahasa Bugis, demikian pula halnya air suci yang ada di Cerekang (Cerrea) disebut Uwwe Mami yang berarti Air Kami atau atau air bertuah. Uwwe Mami tidak dikenal dalam bahasa Bugis tetapi hanya ada dalam bahasa Wotu.  Berdasarkan hal-hal tersebut diatas Masyarakat Hukum Adat di Wotu disebut Macoa atau yang dituakan, itulah sebabnya orang Wotu dianggap tua atau macoa, sehingga Datu-Datu Luwu yang mengerti Sejarah Luwu yang sebenarnya menempatkan hadat Wotu sebagai sangat terhormat, Datu Luwu menempatkan Hadat Luwu sebagai Kakak atau Macoa, sehingga pemangku Hadat Wotu disebut Macoa Bawalipu ( Yang dituakan di bumi). Pemangku Hadat Wotu sangat menghormati dan menyayangi siapapun Datu di Luwu.Orang Wotu memperlakukan Datu Luwu sebagai adik yang harus dijunjung tinggi dan wajib dilindungi dan dibelanya, demikian pula sebaliknya dahulukala Datu Luwu sangat menghargai orang Wotu sebagai kakaknya ,sebagai mana diperlihatkan Datu-Datu sebelunya. Akan tetapi dalam perjalanan sejarah tanah Luwu, ada sekelompok orang, atau pihak-pihak tertentu yang tidak mengerti sejarah Luwu yang sebenarnya dan berada disekitar Datu Luwu, ingin menghilangkan hubungan baik ini,sehingga peran hadad Wotu sengaja dikesamspingkan. Akan tetapi selicik apapun kelompok ini tidak akan berarti karena setiap saat ada penelitian yang dilakukan para ahli,dan orang Wotu sendiri sangat menhormati hadatnya, dan hadad Wotu keabsahannya juga tidak membutuh adanya pengesahan dari pihak lain termasuk siapapun yang menjadi Datu.Pemangku hadad Wotu dipimpin oleh seorang Macoa, dengan gelar Macoa Bawalipu. Sejujurnya peneliti dari manapun sulit menghilangkan Wotu dari sejarah tanah Luwu,karena Luwu dimulai dari sana.Sebagai penutup dari tulisan singkat ini, kami menutupnya dengan kalimat bijak dari Daniel Defoe “ Bila Arlojiku sendiri yang keliru, hanya aku yang tertipu, bila jam kota yang keliru, maka seluruh warga kota ini akan tertipu karenanya”

( Penulis adalah Wakil Sekertaris KKSS Provinsi Sulawesi Tengah)

PALU. 08 JULI 2009.

NAWAWI.S.KILAT.





Sinopsis Tari Sumajo Luwu

7 07 2009

OLEH M.AMIN WAHID

Pemain Sunajo ini ,dimainkan minimal tiga orang dan boleh lebih sesuai dengan kebutuhan tetapi jumlahnya harus ganjil. Yang boleh menjadi pemain sumajo adalah mereka yang turunannya berasal dari para pemangku adapt/ yang pernah menjadi pemangku hadat ( TOMENGKENI). Sebelum mereka tampil (sumajo) maka mereka disiapkan pada suatu tempat dengan posisi sebagai berikut:

-          Duduk sambil kaki kiri diduduki,

-          Kaki kanan (lutut) berdiri,

-          Kedua belah tangan mereka kepada bahagian depan dengan kepalan tangan,

-          Mereka duduk bersaf.

Setelah melihat para pemain Kajangki datang yang diikuti dengan komando tabuh/gong,maka secara serentak mereka berdiri sambil menganggukkan kepala pertanda bahwa mereka sudah siap untuk tampil. Sesudah itu mereka berjalan dengan posisi berbanjar dan diikuti oleh pemain kajangki. Setelah tiba tempat dimana mereka akan mempertunjukan Tarian Sumajo, maka pihak penari Sumajo menyusun posisi mereka, sedang para pemain kajangki berada setengah lingkaran, suatu pertanda bahwa penari Sumajo perlu dilindungi. Namun sebelum penari Sumajo muncul dihadapan mereka ada duduk dewan hakim minimal tiga orang yang terdiri dari:

-          MACOA BAWALIPU,

-          MINCARA OGE,

-          ANRE GURU OLITAU/ AND.NANRA.

Setelah pertunjukan Sumajo usai, dengan perintah tubuh mereka kembali ketempat semula, yang diantar oleh pemain Kajangki, dan setelah mereka tiba ditempat, maka pemain kajangki kembali duduk disekitar Dewan Hakim. Dan setelah mereka duduk, Macoa Bawalipu menyampaikan titahnya sebagi berikut:

TAMAKA RANNU PADA MUITAO MOMBORE,   YAKIYA DAA SEDDE KEDO KEDONA SALAH SAITOMU,KEDO KEDO PISA LAWADDI LAITA TOMATABBA, JAJIMAKOKKONI HARUSU MARO MO EJA EJA.

Pada saat Macoa Bawalipu menyampaikan titahnya tersebut maka sarung yang ada ditangannya yang disebut Cinde, dilemparkanlah kepada yang berbuat kesalahan tadi. Setelah yang bersangkutan menerima Cinde tersebut maka dengan rasa ragu dan takut menghadaplah dia ke Dewan Hakim untuk meminta maaf, akan tetapi Dewan Hakim tidak menerimanya, justru yang bersangkutan melakukan Eja-Eja. Eja-Eja adalah merupakan pantun jenaka, dan tidak terikat dengan bahasa, malah kalau pelakonnya bergerak lucu, maka itulah yang sangat diharapkan karena dapt membuat penonton tertawa. Bila yang bersangkutan selesai melakukan eja-eja maka cinde yang ada pada tangannya dapat diberikan kepada siapa saja yang dikehendakinya terkecuali kepada pejabat pemerintah/pemangku hadat dan wanita. Dan apabila yang tersebut juga diberikan maka permainan/tarian dianggap selesai, dan cinde kembali diserahkan kembali kepada Macoa Bawalipu. Cinde adalah selembar kain sarung panjang yang tidak terjahit seperti sarung biasa yang dipegang oleh pemain Eja-Eja pada saat kena giliran. Adapun alat kelengkapan Tarian Sumajo:

    1. Baju Bodo panjang (Baju laru ) warna merah,
    2. Sarung sutra warna putih,
    3. Selendang Warna putih
  1. Memakai sanggul tinggi.

SEKELUMIT NYANYIAN KAJANGKI.

LIPU BULLI NU AMBARO MPORO,

PANGALLE AWAU PANGALLE TO RUMPAU,

IYOBA PO LEMBANGKU,

PANGANA WONRU TUU ITA PANA LIPU,

IYAPO LADI PENNEYA ANANAPO MARAJA,

MO EMBA PATOLA.

Wotu,  Januari 2009.

M.Amin Wahid.Tomalatta.





Sinopsis Tarian Kajangki Luwu

7 07 2009

LATAR BELAKANG

Ware (Pusat Kerajaan) Luwu yang Pertama yaitu pada abad ke IX sampai abad ke XIII, pusat kerajaan pada saat itu masih disekitar Wotu, tepatnya di wilayah Bilassalamoa (Kebun Dewata). Kajangki Luwu, yang merupakan tarian asli Luwu sebagaimana yang tercantum dalam sure La Galigo yang berjudul Mulaitoe yang berbunyi:

=  Kajangki ri Luwu,

=  Masengo-sengo ri Mengkoka dan

=  Mabbadong ri Toraja.

II.   ARTI

Kajangki Luwu berarti “Kemenangan Luwu” maka jelas bahwa kajangki Luwu menggambarkan dan mengisahkan kemenangan yang dicapai di medan perang.

Baca entri selengkapnya »





Kajangki dan Sumajo, Tarian Asli Luwu

7 07 2009

Pengantar

Berawal akan ketertarikan saya ketika semasa kuliah di Universitas Indonesia, tempat dimana kami dahulu sempat ditempa dalam penguasaan ilmu pengetahuan, saya kagum dan, ada rasa iri melihat teman-teman saya dengan tekun belajar Javanologi dan Sundalogi.Hal ini mengingatkan akan masa kecil saya di kampung, belajar banyak tentang La Galigo dari Pua Kannu dan kakak saya Alwi Azis dan Amin Wahid. Sudah menjadi kebiasaan saya bila pulang berlibur  di kampung halaman, saya selalu menyempatkan diri menemui Bapak Prof Zainal Abidin Farid di kota Makassar, kami sering berbincang cukup lama pada setiap kesempatan, beliau sangat senang karena masih ada orang seperti saya yang punya kepedulian tentang hal ini, dan berpesan jangan berhenti belajar , walaupun sebenarnya disiplin ilmu saya bukanlah pada bidang ini, tetapi walaupun demikian saya punya perhatian besar Masih teringat dalam ingatan saya ketika salah seorang guru sejarah kami mengajarkan tentang seni tari, dan beliau menyatakan bahwa tarian Pa’jaga berasal dari Luwu, sempat saya membantahnya bahwa itu tidaklah benar, tetapi tarian asli Luwu adalah Kajangki dan Sumajo, akan tetapi pada akhirnya saya mengalah ketika beliau menyatakan bahwa kalau ada pertunjukan kesenian di Istana Luwu tidak pernah kita melihat adanya tarian kajangki tetapi yang ada adalah tarian Pa’jaga. Sebagai murid yang masih sangat lugu saya tidak bisa membantahlagi dan untuk mementara menerimanya sebagai suatu kebenaran.Penasaran akan hal ini maka suatu ketika saya bersua dengan kakak saya Alwi Azis dan mempertanyakan hal ini kepada beliu, ternyata pendapat saya beberapa tahun yang lalu justru menurut beliau adalah yang betul dengan mengeluarkan dalil sebagai berikut, dalam buku Mulataue yang merupakan salah satu seri epos La Galigo disebutkan “ Kajangki ri Luwu, Masengo-sengo ri Mengkoka dan Mabbadong ri Toraja. Jadi menurut beliau tidak pernah diketemukan bahwa Pa’Jaga dari Luwu, justru tari pa’jaga ini lebih banyak dipengaruhi dari Makassar atau Goa.Jikalaupun kita mau menerima bahwa tarian pa,jaga dari Luwu dapat saja dibenarka karena hal itu terjadi pada Luwu di era modern (abad IX dan XX) tetapi pada era awal atau pertengahan fase pemerintahan Kerajaan Luwu hal itu tidak diketemukan.

Baca entri selengkapnya »





TOMANURUNG TANAH LUWU

7 07 2009

Oleh Nawawi S. Kilat

Sebahagian orang kadang mengungkapkan bahwa, To Manurung sering diartikan sebagai turunan dari kayangan dan ditakdirkan untuk memerintah manusia dimuka bumi. Tidak sedikit orang mengungkapkan bahwa To Manurung itu bukanlah manusia sejarah, atau hanya merupakan mitos belaka, akan tetapi penulis lontara dan para petutur di zanan luwu purba di Wotu ketika itu masih terletak disekitar ussu dan bilassa lamoa (kebun dewata) mengungkapkan bahwa raja pertama disebut To Manuru , hal ini disebabkan oleh karena tidak diketahui darimana kedatangannya demikian pula menghilangnya. Jadi sebenarnya oleh masyarakatnya dia dianggap sebagai manusia surgawi atau wija polamoa (berbeda dengan tradisi-tradisi jawa) tetapi diakui sebagai orang yang datang dan mempunyai kepintaran dan keahlian. Seorang  To Manurung (orang Asing) kadang diangkat sebagai raja (belum tentu raja pertama) oleh karena beberapa alasan antara lain:

a,    Mungkin sebagai daerah bawahan dari suatu kerajaan yang lebih besar.

b.    Karena kehebatan dari pribadi sang pendatang.

c.    Karena alasan politik untuk mempersatukan wilayah.

Baca entri selengkapnya »





Wotu, dari Kacamata Seorang Anak Kecil

7 07 2009

Oleh: Amirullah Amir to Baji

Pendahuluan.

Wotu, sebagai komunitas dan sebagai pemukiman secara administratif berada di Kecamatan Wotu, Kabupaten Luwu Timur atau berjarak sekitar 513 km dari kota Makassar ibukota provinsi Sulawesi Selatan. Penduduk traditional yang mendiami terdiri dari dua etnik besar yaitu Wotu dan orang Bugis, disamping etnik lain seperti Makassar, Jawa, Lombok, Sunda dan Bali, yang merupakan pendatang yang bermukim di sana. Aktivitas ekonomi bergerak di bidang pertanian, perikanan dan perdagangan. Di dalam pergaulan masyarakatnya, berlaku dua bahasa pengantar yaitu bahasa Wotu yang dituturkan oleh orang Wotu Asli dan bahasa Bugis. Bahasa Wotu merupakan grup linguistic, Muna-Buton (Sirk:1986 dan Salombe;1986) dan Kaili Sulawesi Tengah. Dahulu kala bahasa Wotu alat komunikasi pada sebahagian daerah Sulawesi Selatan pada sepanjang pesisir Teluk Bone dan sebagian Sulawesi Tengah, dan sekitar Buton Tenggara. Bahasa Wotu menurut Petras (ibid) adalah salah satu bahasa asli daerah Luwu dan penuturnya adalah merupakan pewaris budaya Luwu yang sesungguhnya. Demikian pula dalam struktur hirarkhi Kerajaan Luwu , yang kadang kala ada sekelompok golongan ingin mengaburkan atau menghilangkan sejarah ini, yang lebih ironis justru dari kelompok generasi Luwu pada periode-periode akhir, mereka tidak menyadari bahwa Wotu bukan merupakan palili (vassal) tetapi merupakan Domain yang menghubungkan kekuasaan Luwu dengan yang lain dengan Lembah Poso yang mendiami tanah Datu,

Baca entri selengkapnya »








Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.